Polusi Udara Tingkatkan Risiko Depresi 1,8 Kali Lebih Tinggi

Masalah kesehatan mental terutama depresi yang meningkat dapat dipengaruhi oleh buruknya kualitas udara di sekitar kita. Paparan polusi udara dapat menyebabkan stress oksidatif, disfungsi mitokondria, dan reaksi inflamasi pada sel saraf. Polusi udara tidak hanya memberikan dampak terhadap sistem pernapasan, lebih dari itu dapat memberikan pengaruh kesehatan mental kita.

Zat polutan udara dapat merusak sel-sel tubuh kita dan mengganggu fungsi mitokondria dalam sel. Peradangan pada sistem saraf pusat adalah salah satu mekanisme yang menjelaskan hubungan antara polusi udara dan depresi.

Paparan polusi udara yang berkepanjangan dapat menyebabkan disregulasi pada hipotalamus pituitari adrenal yang memicu pelepasan hormon kortisol. Ketika kadar kortisol tetap tinggi dalam waktu yang lama dapat mengurangi hormon pengatur mood dan protein yang berperan dalam plastisitas sel saraf (BDNF), kondisi yang dapat memicu depresi.

Selain itu, polutan yang terhirup dapat mempengaruhi sistem saraf di otak dan mengubah zat-zat kimia yang mengatur pola tidur manusia. Akibatnya adalah kesulitan untuk mendapatkan pola tidur yang berkualitas. Kondisi ini yang dapat memperparah depresi.

Masalah ini berpotensi lebih buruk pada masyarakat berpenghasilan rendah. Kelompok masyarakat ini tidak hanya memiliki keterbatasan dalam menghindari paparan polusi udara, tetapi juga seringkali kurang memiliki akses ke sumber daya yang dapat membantu mengurangi masalah kesehatan mental.

Masyarakat kelas menengah ke bawah yang tinggal di kawasan dengan polusi udara tinggi seperti sekitar kawasan industri memiliki prevalensi depresi yang dapat mencapai 30.6%. Selain itu, pada daerah perkotaan, kelas pekerja juga cenderung membutuhkan waktu commuting lebih panjang ke tempat kerja. Kondisi ini menjadikan kelompok ini terpajan polusi udara lebih lama dan beresiko lebih tinggi.

Tanpa upaya perbaikan, masalah depresi yang dipengaruhi oleh buruknya kualitas udara berpotensi melonjak dan berdampak turun temurun. Pada tahun 2023 dari 357 kota di Asia Tenggara hanya 3 kota yang memenuhi standar kualitas udara dari WHO. Dengan terus meningkatnya polusi udara, prevalensi kasus depresi dan gangguan mental lainnya di kawasan Asia Tenggara diperkirakan akan bertambah.

Tanpa intervensi, diperkirakan akan terjadi penurunan kesehatan mental di masa mendatang. Hal ini berdampak sistemik pada produktivitas hingga perekonomian yang berpengaruh lintas generasi.

Kedepannya dibutuhkan upaya sinergis lintas pemangku kepentingan untuk menurunkan risiko masalah kesehatan mental yang dipengaruhi polusi udara. Sementara, secara akademis dibutuhkan riset transdisipliner untuk mengeksplorasi lebih lanjut mengenai berbagai faktor kesehatan mental.

Tulisan ini merupakan feature dari poster konfrensi ilmiah: Hanum et,all. Polusi Udara dan Gejala Depresi di Asia Tenggara, Sebuah Scoping Review, 8th PUMP, Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa, FK UI 2024.

Mata Bumi Vol. 1 Issue 3 

Referensi:

Intarut, N., & Pukdeesamai, P. (2020). The prevalence of secondhand smoke exposure and related factors among schoolchildren in Northeast Thailand. F1000Research, 9, 1158. https://doi.org/10.12688/f1000research.26039.1

Mata, C., Lappharat, S., Chusiri, Y., Khumjorhor, M., & Taneepanichskul, N. (2022). Effect of residential proximity to the lignite-fired power plant on depression, sleep quality, and morning salivary cortisol in the elderly. The Science of the total environment, 811, 151346. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2021.151346

Mekwilai, M., Sirichana, W., Thawanaphong, S., Kawkitinarong, K., Taneepanichskul N. 2023. “Assessing the association between daily self-reported health symptoms and mental health among respiratory patients during high-pollution period in Thailand,” International Journal of Innovative Research and Scientific Studies, Innovative Research Publishing, vol. 6(3), pages 626-632

Kim, Y., Manley, J., & Radoias, V. (2020). Air Pollution and Long Term Mental Health. Atmosphere, 11(12), 1355. https://doi.org/10.3390/atmos11121355 

Xu, Y., Jiang, S., Li, R., Zhang, J., Zhao, J., Abbar, S., González, M, C. (2019). Unraveling environmental justice in ambient PM2.5 exposure in Beijing: A big data approach, Computers, Environment and Urban Systems, Volume 75,, Pages 12-21, ISSN 0198-9715, https://doi.org/10.1016/j.compenvurbsys.2018.12.006 

 

Related Posts